Rabu, 18 September 2013

NENEK TUA DI SISI KOTA



NENEK TUA DI SISI KOTA
KARYA: Muhammad alifathullah

Kaki kecilnya tak pernah berhenti melangkah menyusuri liku-liku jalan yang dipenuhi hiruk pikuk masyarakat kota. Tangan lihainya menjajakan sebuah kue sederhana khas kota tempat kelahirannya, demi menyambut esok pagi yang lebih baik. Walau usianya sudah semakin renta, nenek tua itu masih semangat untuk berjualan, ia tak mau bergantung pada nasib anak cucunya. Ia yakin, ia mampu menghidupi dirinya sendiri dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Senyumnya selalu terukir di wajahnya yang mulai keriput kepada setiap orang yang ia temui sepanjang jalan. Rasanya matahari semakin meninggi. Bulir demi bulir keringatnya pun mulai berjatuhan dari dahinya yang bertatapan langsung dengan sang mentari, menandakan ion tubuhnya mulai menipis. Terkadang jika ia begitu merasa lelah, ia selalu sempatkan diri untuk duduk sebentar di pinggir trotoar sambil menengguk beberapa tetes air mineral yang setidaknya dapat menjadi oase di gurun tenggorokannya.

Langkahnya kembali terpadu, mulutnya kembali menyuarakan hal yang sama, berharap seseorang dapat menghampiridan membeli kue yang sudah ia buat sejak pagi buta itu. teriakannya pun berbuah manis, seorang gadis kecil bergaun merah menghampiri nenek tua itu sambil membawa selembar uang lima ribuan. Nada bicaranya yang masih sedikit cempreng pun berhasil mengukir satu senyuman di bibir kering nenek tua itu.

Detik jam terus berlalu. Terkadang takdir memang tak searah dengan apa yang kita dambakan. Sore itu, hujan deras kembali mengguyur kota yang cukup padat penduduk ini. Kendaraan-kendaraan pribadi yang bertebaran sepanjang jalan pun seakan menambah riuh suara hujan yang kian deras. Jalanan pun makin licin dan becek, membuat sang nenek tua itu susah berjalan untuk kembali ke peraduannya.
Petang datang menyambar. Nenek tua itu masih merenungi nasibnya untuk esok pagi. Kue yang tadi ia jual belum juga seberapa karena terpotong deras hujan yang mengguyur habis permukaan kota. belum lagi cadangan kayu bakar untuk kompor tungkunya telah habis, mungkin jika petang ini tidak hujan, ia akan sempatkan diri menuju hutan yang cukup belantara untuk mencari batang-batang kayu yang memenuhi sisi hutan. Tapi, kini ia hanya bisa merenung, berharap keajaiban bisa menjemputnya di sela milyaran manusia yang ingin juga dijemput oleh sang keajaiban.

Suara lantunan ayat-ayat suci menjadi penghias malam  temaramnya. Setidaknya rumah bambu yang ia  tempati  itu akan  menjadi  lebih  hidup  karena  lantunan  ayat  Tuhan  itu. “Hanya kepadamulah hamba menyembah dan hanya kepadamulah hamba memohon pertolongan.” Sebaris do’a yang dapat ku dengar dari bilik bambu rumah yang mulai rapuh itu.

Begitu kasihan nenek tua itu, hidup sendiri dalam rumah yang mulai rapuh termakan usia. Kemanakah anak-anaknya? Apa mereka lupa atas jasa yang telah diberikan sang ibu pada mereka? Mengapa sang anak tega membiarkan ibunya hidup sebatang kara seperti itu? Tidakkah ada rasa kasihan di hati mereka? Apakah mereka telah mati, atas gelimpangan harta yang telah mereka miliki sekarang? Oh, mengapa aku jadi berfikir seperti ini? Aku tidak pantas berprasangka buruk pada anak nenek tua itu.

Pagi-pagi sekali ia sudah keluar dari peristirahatannya. Mencoba sejenak menghirup udara pagi dan mengisi  perutnya  dengan  beberapa  potong kue bekas kemarin. Dengan langkah kecilnya, ia menuju hutan belantara itu, ditebarnya pandangan ke seluruh sisi hutan supaya dapat mempercepat pencarian kayu bakar yang akan ia gunakan untuk memasak kue-kue kecilnya. Senyumnya kembali terukir saat ia melihat hamparan kayu-kayu kering di tengah hutan itu. Dengan lihai, ia mengumpulkan semua kayu-kayu itu dan diikatnya dengan kuat. Walau badannya mulai rapuh, ia masih mampu membopong kayu-kayu itu, setidaknya sampai tepat di samping rumah bambunya. Karena disitulah ia mulai membuat kue kecilnya yang dulu ia pelajari dari sang ibu.

Waktu masih berlalu. Matahari pun mulai menyorotkan sinarnya hingga ke ujung bumi pertiwi. Hari ini ia sedikit terlambat untuk memulai aksinya. Hujan di sore itu memang sedikit membuatnya merugi, tapi apa yang bisa ia perbuat? itu sudah ketetapan Tuhan untuk mengatur segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini.

Kembali berteman dengan debu-debu. Kembali ke jalan megah metropolitan. Mungkin ia hanya sebagian kecil dari metropolitan ini, tapi setidaknya ia ikut meramaikan perjalanan kota. Sudah bertahun-tahun ia mencoba menjemput pundi-pundi rupiah di tempat ini. Walau ia tahu, makanan modern lebih diminati masyarakat kota, tapi mimpinya mungkin nyata, setidaknya masih ada yang setia dengan makanan tradisional seperti apa yang ia jajakan.

Aku tersenyum melihat nenek tua itu begitu bersemangat menjajakan dangannya di sisi jalan ibukota ini. Usia boleh saja tua, tapi semangatnya seakan tak pernah tua. Aku tau, ia begitu lelah tapi ia tetap mampu membentangkan senyum di kedua bibir mungilnya.

Aku pun terheran, mengapa anak muda jaman sekarang lebih memilih untuk ngganggur daripada mencari pekerjaan, walau kerjaan itu dianggap remeh oleh sebagian orang. Apa mereka gengsi? jika setidaknya mereka menjual koran-koran ataupun sekedar menjual minuman pelepas dahaga di sisi-sisi jalan. Usia anak muda pasti belum mencapai kepala 3, tapi mengapa semangatnya sudah seperti kakek renta yang dengan pasrah dititipi di panti jompo? Aku tidak habis fikir.

Kembali ke nenek tua itu. hari ini ia cukup beruntung, karena ia pulang sambil membawa keranjang jualannya saja. Ya! semua kue nya laku terjual. Hujan tak lagi menjadi penghalang pundi rupiahnya.

Ia kembali terduduk di atas sajadah tua kenang-kenangan dari ayahanda tercintanya. Sajadah tua itu selalu menemani sang nenek untuk mengadu kepada Tuhan. Tapi bukan aduan lagi yang kini ia dengar dari mulut nenek tua itu, tapi ucapan syukur yang tak henti-hentinya keluar. Sang nenek berkali-kali sujud syukur atas peruntungannya hari ini. Ditemani lampu temaram yang sekiranya cukup untuk menerangi tubuh dan sajadah tua nya.

Pagi kembali menjemput kembali berteman dengan debu-debu, kembali ke jalan megah metropolitan, membanting tulang yang kian rapuh, demi 1 rupiah yang ia tunggu. Nek semoga langkah mu tetap tegar walau tk lagi tegap, semoga semangat muda mu tetap bersinar walau langit merasa meradang, semoga mimpi-mimpi mu kan selalu hidup walu sebagai bunga malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar